Ketika Pesimis bertamu sebentar


Salah seorang temanku berkata bahwa “sebuah tangis bukan penyelesaian.”
Ada benarnya juga, tapi kemudian tangisku tak lagi terbendung. Lelah luarbiasa ditumpuk jadi segala macam pikiran yang tak ada kadaluarsa. Sesekali aku terpikir sebuah masalah akhir-akhir ini ada karena hari-hari yang terus berlalu, kemudian aku menyalahkan diriku. Merasa kecewa luarbiasa di susul rasa takut yang bertengger dalam benak serta pikiran yang sudah tak lagi rasional.
Kata semangat terus terlontar, dan acap kali aku merasa itu bukan untukku. Ini bukan sekedar sebuah tugas kemudian hanya semata-mata harus di jalankan, sebuah jalan keluar, perselisihan antar anggota, egoisme yang tidak pernah surut, serta kesalahpahaman mendengar nada bicara. Perlahan-laha rasa lelah merambat masuk dalam benak dan pikiran mencoba mempersatukan perpecahan terhadap janji untuk untuk bersama untuk segera pupus menjadi sekedar kata-kata yang pernah terucap.
Harus tiba-tiba buta dan tuli dengan kewajiban apalagi kalau terkena sebuah komunikasi menyindir mengenai kabur tiba-tiba.
Mendadak rasanya ingin mati. Yah, saat mendengar semua keluh kesah dan permasalahan ada kalanya ingin memberi solusi, kemudian lupa sampai akhirnya tidak terlaksana. Lagi-lagi solusi hanya sebatas melodi penambah beban.
Begitu seterusnya sampai tak tahu kapan akan berakhir.
Saat kata-kata kelelahan terucap, semuanya beranggapan bahwa kinerja mereka hanya sekedar sesuatu yang tak tampak sulit. Hanya sekedar bukan berarti sesuatu yang sulit, belum lagi saat malas menyapa dan mengajak melakukan ritual rutinnya.
Rebahan jadi kebiasaan dan berbohong sudah jadi tradisi.
Aku menangis karna memang malas yang tiada tara. Pagi-pagi sekali aku sudah bergegas untuk melupakan mentari sampai malam menjelang, bulan mengintip kegiatan yang tak akan pernah berakhir. Yaitu lelah. Lelah sadar ia tak akan berarti apa-apa kalau tetap tinggal dan berusaha bercengkrama dengan optimis yang kini berada di ujung tanduk nan licin juga pula tajam, berharap optimis tidak seperti menyerah yang kini entah kemana.
Serentetan kalimat dengan nada-nada do berimbuh titik di atas menumbuhkan sebuah gejolak hati dan sakit hati yang menjalar pada batin. Susahnya yah kalau tidak dapat berpikir logis apalagi hati yang kini perlahan-lahan selembut sutra,
Hadirku hanya seperti lebah yang menyengat untuk menyakiti tapi malah berakhir mati.

Komentar